Cara Membuka Usaha Kecil-kecilan [Studi Kasus]

Cara Membuka Usaha Kecil-kecilan

Cara Membuka Usaha Kecil-kecilan

Dalam Konten cara membuka usaha kecil-kecilan ini, saya mengambil studi kasus makanan ringan. Keripik pisang Lukiluck – yang memang sudah saya lakukan sendiri.

Dengan studi kasus yang benar-benar saya lakukan, bisa jadi panduan yang praktis – bisa segera diterapkan.

Tapi…. bisa diartikan juga, ini curhatan saya dalam membuka usaha kecil-kecilan (dulu).

Sekadar informasi, bagi yang membutuhkan peluang usaha sampingan bisa mencoba jadi reseller makanan ringan Lukiluck. Dan itu tanpa dipungut biaya. Alias gratis.

Usaha Modal Kecil Jadi Reseller Dropship Lukiluck

Usaha Modal Kecil Jadi Reseller Dropship Lukiluck

Banyak yang bingung ingin usaha apa?

Masalah terbesar dalam membuka usaha adalah terus bertanya-tanya seperti itu, akhirnya keinginan untuk memiliki usaha tidak jalan-jalan.

Saya dulu juga begitu… terus bertanya-tanya, usaha apa ya?

Terus cari informasi, cari banyak pilihan alternatif…. Tapi ya gitu, begitu terus dan tidak ada hasilnya. Karena memang bertanya-tanya terus, tapi tidak ada action.

Dari studi kasus saya ini, kita akan belajar bagaimana cara membuka usaha kecil-kecilan dulu.

Membuka dengan skala besar bukannya tidak bagus – tapi, terlalu beresiko bagi pemula.

Dan satu alasan lagi, kenapa saya membuat konten cara membuka usaha kecil-kecilan? Karena saya ingin membangun mental juga. Bagaimana membuka usaha dari nol.

Mulai dari bagaimana menentukan produk.

Ada tiga prinsip dalam menentukan produk yang saya pegang.

  1. Melihat peluang
  2. Riset pasar (Konsumen dan pesaing)
  3. Trial eror (Melihat respon pasar)

Ketiganya saya padukan.

Akan saya bahas satu-satu.

1. Melihat peluang agar bisa membuka usaha

Dalam melihat peluang saya lebih senang berangkat dari suatu permasalahan. Permasalahan ini bisa berangkat dari  diri sendiri (dalam artian harus memiliki kesamaan dengan orang banyak yang bisa menjadi calon konsumen kita)

Jadi bukan serta merta masalah pribadi,

Masalah itu sumber inspirasi dan peluang.

Misal, Anda suka warna ungu dan sangat jarang ada pernak-pernik warna ungu. Sementara itu, penggemar warna ungu juga banyak. Sudah satu peluang, iya kan?

Contoh yang sudah ada bentuk nyatanya.

Tidak suka atau tidak pandai mengikat tali sepatu, maka dari itu dibuat sepatu slop

Susah bangun pagi, dibuatlah jam weker

Lalu, bagaimana dengan keripik pisang Lukiluck saya ini?

Kalau keripik pisang Lukiluck ini saya mengambil masalah dari latar pendidikan Saya.

Saya ini Sarjana Pertanian, dan karakteristik harga produk pertanian itu fluktuatif. Dan fluktuatifnya itu menjadi permasalahan.

Harga tinggi, kelihatannya bagus untuk petani. Tapi secara global sebenarnya tidak terlalu baik.

Alasan mengapa harga jadi tinggi, umumnya disebabkan adanya kekurangan stok bahkan bisa sampai kelangkaan.

Bebannya pada konsumen dari segi kemamuan beli. Kemampuan beli turun, daya beli juga turun yang bisa berdampak negatif juga bagi pendapatan petani.

Harga rendah juga jadi masalah, karena artinya stok sedang banyak dan sedikit yang terserap oleh konsumen. Akibatnya banyak sisa. Padahal, produk pertanian memiliki kendala umur simpan yang pendek. Tanpa terkecuali pisang.

Jadi…. untuk harga, stok barang, permintaan, dan penawaran produk yang bagus ya seimbang.

Tapi, sudah saya sampaikan bukan, kalau salah satu karakteristik produk pertanian itu harganya fluktuatif.

Contoh kasusnya ya pisang ini.

Tahun 2016, harga pisang di Malang (Terutama bagian selatan) – Lumajang pernah jatuh. Karena ada kelebihan stok di pasar dan petani itu sendiri.

Akibatnya banyak petani pisang di area Gondoruso, Lumajang yang memilih membiarkan pisang masak di pohon – bahkan sampai membusuk.

Karena untuk beberapa jenis pisang yang harganya murah, biaya panennya bisa dibilang lebih tinggi dari pendapatannya nanti.

Sebenarnya, kalau seperti ini kerugian petani jadi dua kali. Tidak ada pendapatan dan stok pisang jadi tidak layak dijual lagi, karena kalau kelamaan dibiarkan bisa membusuk.

Inilah inti masalah di bidang pertanian (studi kasus: pisang) yang saya angkat.

Jadi, kalau masih ada yang memperdebatkan masalah harga jual produk pertanian rendah dan tidak layak bagi petani itu adalah kesalahan kebijakan pemerintah semata-mata yang tidak berpihak pada petani.

Tidak sepenuhnya benar.

Begini logikanya. Semisal biaya produksi tinggi, tapi mayoritas petani menanam komoditas yang sama dengan secara otomatis waktu panen juga sama.

Akibatnya terjadi panen raya dan harga turun.

Di titik ini kesimpulan yang ditarik oleh khalayak ramai cenderung adalah kesalahan pemerintah semata. Mengapa bisa turun harganya?

Dalam sistem ekonomi di Indonesia, memang ada campur tangan pemerintah dalam menangani pasar.

Seperti contoh, campur tangan Bulog dalam menstabilkan harga beras dengan menjaga persediaan.

Tapi, untuk masalah seperti contoh pisang tadi. Saat panen raya harganya turun, itu bukan semata kesalahan pemerintah.

Masih ada petani sendiri yang masih ngeyel menanam komoditas sejenis sebanyak-banyaknya (umumnya tergiur harga tinggi dan sudah jadi komoditas kebiasaan), akademisi baik mahasiswa atau dosen atau lembaga lainnya yang sehausnya bisa memberikan solusi, dan peran serta masyarakat umum atau tokoh masyarakat yang berpengaruh.

Jadi, ini masalah kompleks yang memang harus dihadapi bersama.

Sayangnya, karena kurangnya pemahaman terkait akar masalah. Masyarakat umum sering mengambil kesimpulan sepihak. Kesalahan pemerintah, lalu berdemo.

Andaikata solusi, kebanyakan lebih menuntut pemberian subsidi untuk sarana produksi agar biaya lebih rendah dan dianggap bisa meningkatkan keuntungan petani.

Memang sih, membantu petani meringankan biaya produksi, tapi tidak membantu petani dalam menyetabilkan harga yang layak.

Meski biaya produksi rendah tapi kalau pisang tidak laku, mau bagaimana?

Dengan kondisi pertanian Indonesia saat ini, saya masih setuju jika di beberapa sektor diberikan bantuan subsidi sarana produksi. Ini tujuannya menekan biaya produksi dan meningkatkan produksi.

Dengan catatan pemberian subsidi diberikan pada komoditas yang memiliki produksi rendah – terutama daerah tertinggal. (Karena bisa jadi langkah percepatan peningkatan produksi) Apalagi jika subsidi sarana produksi ini berbasis teknologi yang bisa meningkatkan produksi dan efisiensi biaya yang bisa digunakan dalam jangka panjang.

Tapi jika diberikan pada komoditas yang memiliki tingkat produksi tinggi sementara tingkat permintaan konsumen sama setiap tahunnya. Saya sedikit kurang setuju. Produksi bisa meningkat, jadinya panen raya, sementara permintaan sama. Akibatnya kelebihan stok. Harga jadi tidak stabil lagi.

(Memang bisa ditunjang tingkat permintaan untuk ekspor keluar negeri, tapi namanya kebutuhan luar negeri – tidak bisa selalu diharapkan akan selalu ada, iya kan? Karena kalau sudah bicara antar negara, persaingannya bukan pedagang satu dengan pedagang satunya)

Kembali lagi, pemberian subsidi ini akan mendorong peningkatan produksi yang bisa berdampak panen raya juga. Akibatnya harga kembali turun dan banyak stok pertanian membusuk lagi.

Inilah, kenapa saya tidak terlalu suka kebijakan pemberian subsidi.

Karena seharusnya kebijakan itu mendidik untuk berkembang, bukan memanjakan.

Ada satu kebijakan untuk mencegah fluktuasi harga, yaitu dengan diversifikasi komoditas. Jadi, semisal dalam satu kabupaten yang memiliki komoditas khusus jagung. Bisa diperbanyak dengan ragam komoditas lainnya. Jagung, tebu, kacang, dan lainnya.

Dengan begitu, dalam satu kabupaten tidak akan terjadi panen raya untuk komoditas jagung lagi. Sehingga harga jadi lebih stabil.

Permasalahannya, karakteristik petani kita ini (Atau masyarakat secara umum) cenderung menjadi follower. Pengikut trend kebanyakan dan kekinian.

Dalam hal mengikuti trend ini bukan hanya masalah teknologi atau sosial medianya saja, tapi juga dalam enentuan komoditas.

Misal, harga cabai sedang tinggi, semua petani tomat berbondong-bondong tanam cabai. Ketika musim panen, terjadi panen raya. Akibatnya harga jadi turun.

Sementara komoditas tomat menjadi langka – sebab petani tomat berbondong-bondong menanam cabai. Tomat yang langka menyebabkan harga tomat tinggi. Sekali lagi, berbondong-bondong menanam tomat. Terjadi panen raya tomat, dan harga turun, tidak seperti apa yang diharapkan petani.

Kebijakan yang paling tepat menurut saya untuk menstabilkan harga komoditas pertanian ini adalah dengan added value pada komoditas tersebut (Pemberian nilai tambah) yang bisa berarti luas.

Menambah umur simpan, meningkatkan kualitas, yang secara otomatis berdampak pada harga yang lebih stabil dan menguntungkan bagi petani.

Petani pun tidak akan bingung-bingung lagi jika terjadi panen raya. Karena masalah stok sisa, mereka sudah bisa mengatasinya.

Memberikan added value paling sederhana adalah dengan sortirisasi, contohnya adalah harga sayuran di supermarket dengan di pasar tradisional sudah berbeda.

Selanjutnya ada packaging, selain menambah kualitas dalam hal tampilan, ini juga bisa menambah umur simpan.

Ketika dulu semester 2 (dua) saat perkuliahan, di sana ada praktikum penanganan pasca panen. Dilakukan praktek sederhana packaging pada sayuran.

Untuk hasilnya, sayuran yang memiliki umur simpan pendek, satu dua hari sudah layu dan tidak enak dimasak bisa ditangani agar umur simpan sekaligus kesegarannya lebih lama.

Waktu itu sayurnya sawi hijau. Dan umur simpan paling lama dengan perlakuan dibungkus rapat menggunakan plastik wrap dan disimpan pada pendingin (kulkas)

Saya lupa seminggu atau dua minggu hasilnya. Seingat saya masih seminggu lebih. Dan untuk bukti foto belum saya temukan, karena ini praktikum Tahun 2011.

Tapi kedepannya jika ada waktu akan saya coba terapkan lagi, agar Anda bisa melihat sendiri perbandingannya.

Terkait kebijakan pemberian nilai tambah ini bebannya tidak hanya jatuh pada pemerintah, tapi juga kesadaran petani itu sendiri, akademisi (yang artinya lulusan Fakultas Pertanian atau bidang terkait seperti saya ini) Dan masyarakat umum yang mengerti.

Karena kesadaran itu pula saya mengambil peluang olahan pisang yang saya jadikan keripik pisang.

Umur simpan bisa lebih lama, tentunya.

Dan ada nilai tambah untuk konversi harga.

Apakah melihat peluang dari pisang berhenti disini? Tidak… masih bisa dikembangkan lagi.

Selanjutnya, peluang produk pisang yang saya kembangkan berkaitan dengan pasar.

Ini sudah mulai memadukan ketiga tahap di atas. Melihat peluang, riset pasar dan trial eror produk.

2. Riset pasar = selera konsumen dan bagaimana pesaing bergerak.

Di sini kita akan belajar target konsumen. Salah mentargetkan, konversi penjualan akan kecil.

Target keripik pisang Lukiluck ini mengarah pada usia 18-40 Tahun. Berdasar kelas ekonomi dan selera sesuai usia.

Kenapa tidak dengan usia di atas 40 tahun? Umur di atas 40 tahun cenderung menggemari keripik pisang dengan rasa original atau asin. Sementara keripik pisang yang saya kembangkan lebih rasa-rasa modern seperti coklat, susu, dan pedas (untuk rasa pedas sampai konten ini diterbitkan belum terlalu berhasil trial erornya)

Konten ini masih belum selesai, masih akan terus dilanjutkan…..

Kukuh Niam Ansori

Kukuh Niam Ansori - Account Officer at BPR Lestari Jatim. Membuat blog kecil ini dengan tujuan hendak membangun perbincangan santai tapi konstruktif sehingga bisa memberi dampak bagi orang lain (pembaca blog ini utamanya) terkait pengembangan bisnis, investasi, marketing, dan cara meningkat omset penjualan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *