Membuka Cabang Usaha untuk Meningkatkan Penjualan

Membuka Cabang Usaha untuk Meningkatkan Penjualan

Membuka Cabang Usaha untuk Meningkatkan Penjualan

1. Perlukah membuka cabang usaha?

Tidak perlu.... jika merasa pendapatan dari usaha yang ada saat ini sudah cukup.

Ada sedikit cerita,

Ketika saya kecil, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari belanjanya ke pasar (jika jumlahnya banyak) dan ke toko kelontong terdekat.

Toko kelontong ini memiliki prinsip usaha dengan pendapatan cukup. Tidak tertarik mengembangkan usaha (Andai kata ada pengembangan, kebanyakan hanya memperlebar bangunan) dan sudah pasti tidak tertarik membuka cabang usaha.

Dulu, saat saya masih kecil. Apa yang dilakukan pemilik toko kelontong terbilang wajar. Jualan masih laris, karena kebanyakan dalam satu kampung atau wilayah, toko penyedia kebutuhan sehari-harinya tidak banyak. Ada yang satu RT satu toko, ada pula yang satu RW satu toko.

Lama-kelamaan muncul toko kelontong baru lainnya. Pelanggan berkurang dan secara otomatis pendapatan berkurang.

Semakin kesini, sudah semakin banyak mini market yang dibangun di sekitar komplek pemukiman. Penataan yang lebih modern, rapi, bersih, dan tidak kalah lengkap menarik konsumen untuk beralih dari toko kelontong ke mini market.

Sekali lagi, pelanggan semakin berkurang.

Pada akhirnya, ada toko kelontong yang bertahan dengan penjualan apa adanya dan pendapatan yang tidak naik, justru bisa turun.

Ada juga toko kelontong yang akhirnya tutup karena kalah bersaing.

Seperti toko kelontong itulah nasib usaha yang memiliki prinsip sudah cukup. Mungkin saat ini sudah cukup, tapi di kemudian hari bagaimana? Saat pesaing sudah semakin banyak?

Jadi, mengapa harus membuka cabang usaha?

  1. Branding – memperkenalkan usaha dan produk secara lebih luas. Dengan semakin dikenal maka bisa dijadikan senjata untuk menghadapi persaingan.
  2. Ketika permintaan pasar mulai meningkat, membuka cabang usaha bisa dijadikan solusi untuk memenuhi permintaan pasar di berbagai wilayah. Ini juga salah satu bentuk pelayanan dalam mendekatkan produk kepada konsumen.
  3. Tentu saja membuka cabang itu jalan untuk menjadi lebih besar. Meningkatkan omset penjualan – dan tentu saja profit (keuntungan)

Coba lihat ilustrasi keuntungan berikut….

Ibaratnya saja Anda hanya memiliki satu cabang, dan profit atau keuntungan rata-ratanya hanya 300.000 per bulan…. Sangat kecil kan?

Tapi, bagaimana jika Anda memiliki sepuluh outlet?

300.000 x 10 cabang = 3.000.000 per bulan…. Sudah lebih besar dari UMK Malang 2017 kan? Itu pun dengan asumsi keuntungan yang sangat kecil sekali…. 300.000 per bulan per cabang…

Bagaimana jika sudah menerapkan strategi lokasi yang strategis? Bisa jadi keuntungan lebih dari itu….

Kesimpulannya...

Membuka cabang usaha itu perlu, agar tetap eksis dan terus berkembang.... Tapi tidak harus sekarang.

Sebab ada yang harus dipersiapkan, dan jangan membuka cabang usaha jika persiapannya belum terpenuhi secara matang. Karena hanya akan membuang-buang biaya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dan disiapkan.

Memastikan target pasar – konsumen tersedia.

Target pasar itu penting, karena bisa menjadi salah satu faktor terbesar kegagalan usaha – termasuk cabang usahanya.

Sudah saya bahas pada artikel tentang cara mencari tempat usaha yang strategis agar jualan laris pada bagian kriteria tempat usaha yang strategis (Demografi)..

Jika belum baca, sebaiknya baca terlebih dulu. Karena saling berkaitan.

Usaha saat ini pasti memiliki target pasar. Ketika akan membuka cabang usaha, target pasar yang sesuai secara karakteristik harus terpenuhi. Seperti usia, pekerjaan, penghasilan, hobi, kebiasaan, dll – kondisi demografi (untuk kriteria, tergantung kebutuhan dan target pemasaran)

Tanpa memastikan kesamaan target pasar (tanpa survey) bisa berakibat fatal pada cabang usaha. Jika target pasarnya tidak tersedia, cabang usaha bisa tutup.

Contoh: Rumah makan Babi di Bali yang sukses, akan kesulitan membuka cabang di Malang karena target pasarnya tidak tersedia – Karena mayoritas tidak mengkonsumsi Babi.

Ketersediaan modal

Persiapan modal itu pasti...

Tapi, yang terpenting jangan sampai modal untuk membuka cabang justru membebani keuangan usaha utama.

Oleh karena itu, perlu persiapan yang matang dalam menyusun rencana anggaran dan persiapan modalnya.

Dalam perencanaan modal, ada baiknya disiapkan modal 120% (lebih besar jauh lebih bagus) dari modal yang dibutuhkan untuk membuka cabang usaha.

Asumsinya, 20% lebihnya sebagai dana cadangan. Agar ketika terjadi kendala di kemudian hari dan membutuhkan modal lebih tidak sampai mengganggu keuangan usaha utama.

Beberapa cara memperoleh modal untuk membuka cabang usaha.

  • Menyisihkan keuntungan untuk diputar menjadi modal membuka cabang usaha – ini cara yang tepat dan tanpa resiko tinggi, tapi membutuhkan waktu yang tergantung besar keuntungan usaha utama.
  • Mencari investor, resikonya juga kecil, tapi kesulitannya adalah meyakinkan investor dan keuntungan pasti terbagi.
  • Dari pinjaman, bisa keluarga (yang minimal resiko, kemungkinan hanya rasa tidak enak) atau dari lembaga keuangan. Pastinya berbunga, tapi prosesnya jauh lebih cepat dari mengumpulkan modal dengan menyisihkan keuntungan.

Sumber Daya Manusia

Mau tidak mau, dalam membuka cabang usaha pasti membutuhkan tenaga bantuan. Entah untuk produksi, pemasaran, dan kegiatan operasional lainnya di cabang, atau sebagai perwakilan tim manajemen (kita) ketika cabang usaha sudah semakin berkembang besar dan jumlahnya banyak.

Tapi ada satu masalah,

Gagal memilih SDM yang tepat bisa menyeret cabang usaha dalam kegagalan. Sebaliknya, semakin tepat pemilihan SDM maka pertumbuhan cabang usaha semakin pesat.

Ini salah satu yang tersulit.

Sebab, yang dihadapi adalah manusia, benda hidup yang memiliki karakter, sikap, dan pemikiran.

Jika yang dihadapi adalah benda mati, mendorong meja agar bergeser, meja itu akan bergeser. Tapi tidak demikian dengan manusia, mendorong manusia untuk bergeser belum tentu manusianya bisa bergeser. Andaikata mau bergeser, butuh proses lebih lama dari menggeser meja.

Dua kriteria yang wajib diperhatikan dalam memilih SDM.

Karakter – Sikap (Attitude)

SDM yang baik adalah yang dapat dipercaya, pribadi yang tanggung jawab, jujur, dan disiplin.

Sulit memang dalam menilai, apalagi hanya dari kesan pertama.

Bisa memilih diantara orang-orang yang memang sudah dikenal karakternya, memanfaatkan Psikotes atau rekomendasi dari orang yang juga dipercaya.

Soft Skills

Seperti kepemimpinan, Negolobi, Public Speaking, Manajemen waktu, dan Problem Solving.

Bisa dilatih memang, tapi jika bisa menemukan SDM yang memiliki soft skills bagus bisa membantu dalam mempercepat perkembangan cabang usaha.

Maka dari itu, setiap recruitment karyawan baru sebuah perusahaan, pengalaman organisasi menjadi nilai lebih. Karena di dalam organisasi, kadernya dilatih dalam pengembangan soft skillsnya juga.

Tapi hati-hati, organisasi jangan dijadikan acuan.

Dalam sebuah organisasi dan kepanitiaan, ada beberapa golongan anggotanya.

  1. Hanya menumpang nama, tidak aktif, berdiam diri, tidak inisiatif, soft skills tidak bertambah, dan hanya berharap dapat sertifikat saja.
  2. Mereka yang aktif ketika rapat, tapi saat pelaksanaan mereka tidak banyak bekerja, (No Action Talk Only). Hati-hati, kebanyakan yang seperti ini pandai bicara dan sering staff recruitment (Human Resources) terkecoh hanya karena kecakapan bicara.
  3. Dan terakhir, adalah mereka yang aktif bukan hanya saat rapat. Tapi dalam seluruh kegiatan organisasi atau kepanitiaan. Selalu ingin terlibat dan berperan aktif. Orang seperti ini yang dibutuhkan, soft skills akan cepat berkembang dan selalu ingin terus belajar.

Meski nanti SDM sudah diperoleh, ada baiknya diberikan pelatihan soft skills dan hard skills untuk mengupgrade kemampuan mereka.

Standar Operasional Prosedur

Standar Operasional Prosedur (SOP) dibuat agar bisa mewujudkan visi dan misi perusahaan. Baik itu terkait tenaga kerja, proses kerja, ataupun kualitas produk dan pelayanan.

Jika memiliki satu usaha, melakukan pengontrolan mungkin bisa diatasi sendiri – Tapi, pasti akan tetap kesulitan jika usahanya semakin besar. Apalagi jika membuka cabang usaha, tentu semakin sulit melakukan pengontrolannya. Terutama untuk mengontrol kualitas kerja, produk dan pelayanan yang dihasilkan oleh cabang usaha apakah sesuai dengan usaha utama atau tidak.

Oleh karena itu perlu dibuat standar yang sama.

SOP yang bagus adalah yang rinci dan terukur.

  • Rinci bukan berarti rumit, tapi detail dan mudah dimengerti oleh karyawan. Agar mudah diimplementasikan oleh karyawan.
  • Sementara terukur digunakan untuk menjaga kualitas dan kuantitas yang dihasilkan.

Contoh, Budi memiliki pabrik coklat di Malang dengan berat bersih 100 gram perkemasan. Lalu dia membuka cabang di Surabaya, maka coklat yang diproduksi di Surabaya beratnya harus 100 gram juga.

Tempat Usaha yang Strategi

Tempat usaha yang strategis bisa jadi senjata ampuh untuk menarik minat konsumen agar datang dengan sendirinya. Bahkan, seolah 50% Strategi Pemasaran sudah diselsesaikan oleh tempat usaha yang strategis ini.

Tidak percaya?

Baca dulu artikel di bawah ini!

MENCARI TEMPAT USAHA YANG STRATEGIS

Agar Jualan Laris

Artikel ini membahas tentang bagaimana mencari tempat usaha yang strategis dengan berbagai pilihan alternatif. Mulai dengan penerapan kriteria tempat usaha yang strategis (membutuhkan biaya besar), sampai strategi alternatif yang meminimalisir biaya dengan berpikir kreatif dan memanfaatkan peluang.

Ketersediaan Bahan Baku

Antara satu daerah dengan daerah lainnya pasti memiliki karakteristik berbeda, seperti cuaca, suhu, kondisi lahan, area, dan sebagainya. Perbedaan tersebut sering menimbulkan produk lokal setiap daerah berbeda-beda. Jadi, ada kemungkinan bahan baku produk usaha Anda belum tentu tersedia di daerah tempat yang akan dibuka cabang usaha.

Saya jelaskan dengan cerita singkat,

Budi memiliki usaha sari buah apel di Batu – yang memang jadi salah satu sentra perkebunan apel, lalu dia ingin membuka cabang usaha di daerah Poncokusumo (Kabupaten Malang) dan Gresik.

Poncokusumo juga merupakan dataran tinggi seperti Batu dan memiliki perkebunan apel juga, untuk pemenuhan bahan baku tidak perlu dikhawatirkan.

Sementara Gresik, merupakan daerah dataran rendah yang panas dan di dekat laut, tidak ada perkebunan apel karena memang tidak cocok tumbuh di sana. Maka akan kesulitan dalam pemenuhan bahan baku.

Jadi, Gresik memiliki permasalahan dalam ketersediaan bahan baku.

Lalu, apakah Gresik tidak cocok untuk dibuka cabang usaha baru oleh Budi?

Tidak bisa begitu, permasalahan utama adalah tidak ada bahan baku di area sekitar. Tapi bukan berarti tidak bisa disediakan.

Pembahasannya adalah tentang ketersediaan bahan baku, jadi bagaimana bahan baku itu harus tersedia di cabang usaha baru nantinya.

Salah satu caranya adalah menyiapkan gudang penyimpanan bahan baku terlebih dahulu yang bisa digunakan memasok dalam jangka waktu yang panjang. Sebab, memerlukan waktu lebih untuk memperoleh bahan bakunya.

Cabang Usaha Tanpa Biaya Besar

Membuka cabang usaha baru sangat prospektif untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan omset penjualan…. Tapi, seperti yang saya bilang, salah satu yang harus disiapkan adalah biaya.

Ini yang sulit.

Tenang, ada beberapa solusi alternatifnya.

Tapi, yang harus dipahami terlebih dahulu, memiliki cabang usaha bukan HANYA berarti memiliki lokasi usaha baru.

Lebih dari itu, tapi bagaimana kita bisa melebarkan pasar.

Berikut ada beberapa solusi alternatifnya.

2. Membuka Kerjasama Franchise

Anda harus tahu, di luar sana ada banyak sekali pemilik modal yang ingin memiliki usaha tapi tidak tahu harus usaha apa….

Saya rasa, usaha Anda bisa dijadikan opsi franchise untuk mereka terjun di dunia bisnis….

Memang…. jika dibandingkan dengan membuka outlet sendiri, keuntungannya pasti lebih kecil…

Tapi, coba lihat dulu ilustrasi berikut.

Begini…. misalnya Anda memiliki satu outlet pribadi dan satu outlet franchise…

Outlet pribadi memberikan keuntungan 300.000

Sementara outlet franchise hanya 50.000

Jadi keuntungan total hanya 350.000

Bertambah…. memang masih kecil….

tapi….

Anda harus ingat, posisi saat ini tidak memiliki biaya untuk membuka cabang usaha baru. Jadi Usaha Anda hanya satu yang keuntungannya 300.000 saja.

300.000 dibandingkan 350.000 besar mana?

Itu adalah simulasi berdasarkan share profit…. Ada banyak sistem kerjasama franchise yang bisa diterapkan… Seperti penyediaan ketergantuangan bahan baku, atau jenis kerjasama lainnya…. Anda bisa berimprovisasi sendiri kerjasama seperti apa yang bisa memberikan keuntungan lebih tapi tidak merugikan rekan franchise Anda….

Satu hal yang terpenting dalam membuka franchise…. buat usaha Anda memiliki branding yang bagus terlebih dahulu agar calon rekan kerjasama Anda percaya…..

3. Memasukkan produk ke toko-toko retail

Anda tidak memiliki banyak uang untuk membuka cabang? Produk belum memiliki branding yang kuat di mata konsumen?

Ada satu solusi yang bisa diterapkan…. memasukkan produk ke toko retail yang bisa menerima produk Anda…. umumnya masih sejenis tapi produk Anda memiliki diferensiasi…

Contohnya: Anda memiliki produk camilan… Anda bisa memasukkannya pada toko oleh-oleh….

Contoh lainnya, Anda memiliki produk kaos dengan desain sendiri…. Anda bisa memasukkannya pada distro atau toko baju lainnya kan?

Pertanyaannya, bagaimana cara memasukkannya…. kuncinya ada pada tawaran menarik yang Anda berikan….

  1. Potongan harga dan potensi keuntungan toko retail
  2. Kualitas produk
  3. Daya tarik produk mudah diterima konsumen atau tidak

Ada dua sistem yang bisa diterapkan untuk memasukkan produk ke toko retail….

  • Sistem titip, Anda memasukkan produk tanpa kompensasi uang diawal… uangnya Anda peralah setelah dalam jangka waktu tertentu Anda melakukan kontrol ke toko tersebut dan akan dibayar sesuai jumlah produk yang laku….
  • Sistem kompensasi, Anda menerima kompensasi di awal sebesar harga grosir produk yang telah Anda tawarkan….

Saya sangat menyarankan sistem kedua jika Anda tidak memiliki modal cukup…. Karena Anda harus dituntut untuk memutar modal…

Tapi, jika Anda memiliki modal lebih, sistem titip bisa diterapkan karena memiliki tingkat penerimaan oleh toko lebih tinggi daripada dengan sistem memberikan kompensasi diawal….

Ada satu trik yang bisa dicoba agar toko retail bersedia menerima produk Anda.

Memperkenalkan produk Anda pada penduduk area sekitar, kalau bisa memberikan sampel produk gratis terlebih dahulu. Jika mereka suka pada produknya, konsumen akan mencari. Saat itu sampaikan produk Anda tersedia di toko retail terdekat.

Cara lebih lengkapnya, coba baca Cara Memasarkan Produk Baru dari Marketing Tulen.

4. Menjual di Market Place

Apa itu market place?

Pasar?

yah…. bisa dibilang seperti itu….

Pasar sudah otomatis merupakan tempat yang strategis…. sudah memiliki nama, dan konsumen dengan sendirinya datang sendiri….

Saya membagi pasar menjadi 3 kategori,

  • Pasar tradisional
  • Pasar modern seperti supermarket atau minimarket
  • Online market place

Untuk bisa memasukkan produk ke pasar tradisional, sistemnya tidak jauh berbeda dengan memasukkan ke toko retail….

Kendala dari pasar tradisional, lokasinya tidak terdiferensiasi dengan jelas, terkadang penjual sayur bisa saja berdekatan dengan penjual ikan….

Selain itu lokasinya terlalu luas, dan kurang terfokus….

Berbeda dengan pasar modern, selain tata letaknya sudah rapi dan lebih menarik, pencarian barangnya pun bisa lebih fokus…. Misal saja Anda sedang mencari sabun, pasti akan menuju di barisan produk alat mandi, bukan?

Satu lagi kelebihan dari pasar modern, yaitu memiliki banyak cabang, sehingga produk bisa tersebar dimana-mana dengan sendirinya…

Hanya saja, untuk masuk ke pasar modern tidaklah mudah… Anda harus bisa memenuhi syarat-syarat yang ketat yang ditetapkan oleh pasar tradisional…

Seperti Izin BPOM, sertifikasi halal, dan syarat-syarat lainnya….

Ini ada kutipan dari National UKM Buyer PT Trans Retail Indonesia Donny Augusta yang diterbitkan oleh finance.detik.com untuk bisa memasukkan produk ke Carrefour

“Bawa KTP, NPWP, Fotokopi halaman depan buku tabungan, keterangan dari dinas koperasi. Untuk produk pangan, harus dilengkapi dengan keterangan bebas kesehatan dari Kementerian Kesehatan dan sertifikasi halal dari MUI,”

Itu hanya syaratnya saja… tahap selanjutnya masih ada proses seleksi….

Lalu…. bagaimana dengan online market place?

Saat ini…. online market place menjadi trend dikalangan pebisnis baik yang tadinya offline atau memang sudah bergerak secara online….

Selain memiliki konsumennya sendiri, online market place juga memberikan fasilitas lapak online untuk produk-produk Anda….

Kemudahan dalam pendaftaran, dan bahkan gratis (atau tanpa biaya) sangat memotivasi para pengusaha untuk berbondong-bondong menjual produknya pada market place…

Jadi… jangan ketinggalan….

Berikut ini beberapa list market place dan bagaimana cara berjualannya….

  1. Bukalapak dan cara menjual di bukalapak
  2. Tokopedia dan cara menjual di tokopedia
  3. OLX dan cara menjual di OLX
  4. Shopee dan cara menjual di Shopee

5. Agen, Reseller dan Dropshipper yang dibina

Cara ini bisa dibilang cukup menjanjikan, efektif, dan effisien….

Sebab… pada dasarnya kita hanya perlu mencari agen/reseller/dropshipper, menyiapkan produk, lalu mengirimkan pesanan…. Untuk promosi dilakukan 100% oleh mereka….

Tapi….. dengan catatan mereka benar-benar kita bina….

Kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak pengusaha baru ketika mencoba menerapkan strategi ini, mereka hanya mengharapkan produknya dibeli banyak oleh agen/reseller/dropshipper…. Menerapkan minimal order untuk pembelian pertama…. hanya peduli pada pembelian sekali itu, laku tidak laku para pengusaha itu lepas tangan….

Kesalahan fatal…. benar-benar fatal….

Bukannya dapat meningkatkan omset penjualan, mereka justru membuang kesempatan omset penjualan mereka naik secara jangka panjang….

Agar kesempatan itu tidak terbuang sia-sia…. seperti yang saya sampaikan di atas, agen/reseller/dropshipper itu butuh dibina….

Mengapa?

Pada umumnya, mereka ini pelaku baru…. tentu belum banyak mengetahui cara berbisnis atau marketing yang efektif….

Mereka perlu diikat secara emosional, pembinaan secara baik, akan muncul loyalitas dan semakin semangat berjualan….

Lalu…. bagaimana cara membina agen/reseller/dropshipper?

Jadilah ramah dan berikan informasi selengkap-lengkapnya meskipun sebenarnya informasi itu sudah tercantum dalam website….. kebanyakan dari mereka bisa jadi saat membaca website tidak membaca lengkap, membaca lalu lupa, penyampaian informasinya tidak jelas, dan sekadar ingin memastikan dari produsennya langsung….

Berikan fasilitas atau promo yang semakin memudahkan dan menambah semangat mereka untuk berjualan, seperti potongan harga, dan reward…

Pandu mereka dari yang tidak bisa jualan sama sekali sampai bisa jualan, seperti memberikan tips-tips jualan, tips agar tidak di PHP pembeli yang seringnya hanya tanya ujung-ujungnya tidak beli, dan tips meningkatkan penjualan mereka….

Berikan kepedulian pada mereka dengan tulus, seperti mencari cara untuk mengatasi ongkos kirim yang mahal jika lokasinya jauh, bisa dengan memberi potongan ongkos kirim, mencari harga ekspedisi termurah, mencari diskon harga pengiriman barang, dan termasuk secara jujur menceritakan ongkos kirim yang mahal pada mereka karena bisa menyebabkan margin keuntungan mereka menipis…. Ini agar mereka tidak menyesal di kemudian hari dan bisa menjadi agen/reseller/dropshipper Anda dalam jangka panjang

Sebaik-baiknya membina agen/reseller/dropshipper, tetap saja sulit untuk melakukan pengontrolan dan menjaga semangat mereka berjualan…..

Ngomong-ngomong terkait reseller/dropshipper/agen, saya membuka peluang untuk bergabung menjadi rekan bisnis saya, sebagai reseller-dropshipper atau agen, dan itu GRATIS.

PELUANG USAHA SAMPINGAN

Jadi Reseller Dropship/Agen Makanan Ringan Lukiluck

Lukiluck adalah produk keripik pisang yang sedang saya kembangkan dengan tujuan memberikan nilai tambah pada produk pertanian (dalam hal ini pisang). Keripik pisang Lukiluck ini dikembangkan dengan mengedepankan kualitasnya yang premium dan didasarkan segementasi pasar yang jelas, sehingga lebih mudah dalam memasarkannya. Agar ikut terlibat aktif dalam peningkatan perekonomian negeri, meski skala kecil, saya berbagi peluang menjadi reseller/dropship/agen keripik pisang Lukiluck ini.

6. Memiliki sales sendiri lebih baik daripada agen/reseller/dropshipper

Mengapa saya bilang begitu?

Karena kita bersentuhan langsung dan terikat kontrak sehingga bisa dikontrol dengan pelatihan dan sistem reward and punishment…

Pelatihan untuk menambah softskill

Reward berupa insentive besar jika bisa memenuhi target

Dan punishment jika mereka malas dan gagal memenuhi target

Pasti butuh modal besar jika ingin menggaji karyawan sebagai sales, bukan?

Sebenarnya tidak juga, karena pada dasarnya sales digaji dari hasil apa yang mereka jual….

Sebagai contoh, target mereka sebulan 20 juta, lalu gaji mereka sebulan beserta insentivenya hanya 5 juta… dan 15 juta sisanya sudah mencakup biaya produk, akomodasi, transportasi dan keuntungan yang diperoleh perusahaan…

Tapi…. setidaknya, manajemen resiko itu perlu…. Anda tetap harus menyiapkan biaya untuk tiga bulan gaji awal sebagai cadangan….

Tidak mungkin kan sales berjualan meski tidak memenuhi target tidak digaji? (kecuali sistem komisi – tapi saya rasa itu tidaklah etis)

Ilustrasinya seperti ini,

Sebulan pertama karena masih baru dan belum bisa memenuhi target

Bulan kedua untuk memberi kesempatan kedua

Bulan ketiga batas akhir, jika mereka gagal memenuhi target terpaksa harus di-cut, atau putus hubungan kerja

Saya memiliki beberapa saran bagaimana cara membina sales…

Jangan hanya mengevaluasi sales, tapi juga evaluasi sistem seperti penggajian, administrasi, produk, kemasan, dan lain sebagainya

Setidaknya, minimal 5 kali Anda harus pernah terjun sendiri sebagai sales untuk tahu kendala yang bisa dievaluasi, dasar menentukan strategi, dan agar tidak dibodohi sales  kalau Anda bisa memenuhi target sementara sales tidak, bisa jadi dia butuh dibina untuk teknik berjualan atau memang malas

Mengawal sales secara langsung dalam beberapa kali itu perlu, agar tahu permasalahan teknik berjualan sales dan melakukan pembinaan secara langsung

Penutup

Saat ini, itu saja dulu yang bisa saya bagikan.

Jika ada yang ingin ditanyakan, didiskusikan, atau bahkan disharingkan bisa melalui kolom komentar.

Selanjutnya, bisa melanjutkan ke BAB II tentang cara menentukan barang yang cepat laku dijual.

BAB V

Strategi Pemasaran Online untuk Meningkatkan Penjualan

Kita tidak bisa menutup mata, jikalau strategi pemasaran online sangat efektif untuk meningkatkan penjualan. ASAL TAHU CARANYA. Itulah permasalahannya. Pemasaran online atau yang biasa disebut internet marketing benar-benar butuh pemahaman yang mendalam. Coba baca artikel ini agar bisa lebih memahami.

Dapatkan strategi marketing GRATIS, untuk meningkatkan omset penjualan Anda!

  • 1
    Share

Kukuh Niam Ansori

Kukuh Niam Ansori - Account Officer at BPR Lestari Jatim. Membuat blog kecil ini dengan tujuan hendak membangun perbincangan santai tapi konstruktif sehingga bisa memberi dampak bagi orang lain (pembaca blog ini utamanya) terkait pengembangan bisnis, investasi, marketing, dan cara meningkat omset penjualan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *